1. Jangan pernah menunggunya memulai pembicaraan. Ketika suami dengan penuh kepedulian dan perhatian memulai pembicaraan, tindakan ini akan mengurangi emosinya sampai dengan 50%.
  2.  Ingatkanlah diri anda sendiri bahwa tidak ada gunanya marah ketika istri sedang marah. Biarkan dia bicara, dengarkan perasaan-perasaannya, dan ‘nikmati’ keluhan-keluhannya.
  3. Tahan keinginan untuk menyela, membela diri atau meluruskan suatu fakta. Ia hanya sedang ingin didengarkan.
  4. Jangan katakan sesuatu jika anda tidak bisa mengatakan sesuatu yang positif. Ia hanya mau tahu anda peduli meskipun hanya dengan anggukan atau sekedar kata ‘hmm….’.
  5. Jangan melawan diamnya dengan diam, ia akan merasa diabaikan. Jika istri tidak mau bicara, ajukan lebih banyak pertanyaan agar ia bersedia membuka diri. 
  6. Jangan pernah menghakimi perasaan istri tentang perasaan-perasaanya terhadap anda, meskipun anda lebih benar. Apa yang diungkapkannya saat marah hanyalah luapan emosinya sesaat untuk menarik perhatian anda.
  7. Tunjukkan respons penerimaan, kepedulian, dan pemahaman.

 ( artikel ini dikutip dari buku ‘Baarakallahu Laka Bahagianya Merayakan Cinta, hal.232, karya: Salim A. Fillah dengan bahasa yang sedikit diubah )

3 responses »

  1. cumakatakata mengatakan:

    udah kelihatan ukhtiy….

  2. winwheng mengatakan:

    sorry, nanti sy posting ulang soalnya itu import dr http://www.winwhegshare.blogspot.com

  3. cumakatakata mengatakan:

    mana isinya ukhtiy?

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s